KUTUBUKUKARTUN – Acara KOCCA Indonesia bertajuk Animation & Character Licensing Workshop 2022 telah digelar sejak tadi pagi, Rabu (30/03/2022). Subtema dari workshop tahun ini adalah ‘Indonesia & Korea Licencing Merchandising From Local to Global’, ‘The Growth of Business in Indonesia with Study Case MNC Animation’. ‘Unreal Engine Pipeline for TV Animations (Yumi’s Cells)’, ‘Trends & Prospect of the Character Licensing Industry in Korea’, dan ‘The Opportunity of 3D Animation in Changing Market’. Acara ini digelar di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel dalam bagian dari K-Content Bizweek 2022 yang digelar secara virtual dan tertutup dan disiarkan lewat kanal YouTube K-Content Pavilion.
Acara ini diorganisasi oleh KOCCA yang merupakan singkatan dari Korea Creative Content Agency dan dibantu pula atas tangan-tangan dari KAIA, Ainaki, Almi, dan I Love Content.
Subtema dan segmentasi dalam acara ini adalah para narasumber kompeten yang didatangkan langsung dari Korea dan Indonesia. Untuk narasumber dari Korea ada Sei Young Cheung dari MNC Animation, Jin Kwon dan Sujin Wang dari Lotus, serta Si Bum Kim dari Andong National University. Turut menghadirkan Agung Rachmawan sebagai perwakilan dari Bumi Langit.
Adapun untuk rangkumannya, bisa dilihat di paragraf berikut:
‘Unreal Engine Pipeline for TV Animations (Yumi’s Cells)’
Segmentasi ini membahas tentang salah satu animasi korea selatan yang tengah digarap oleh Locus yaitu Yumi’s Cells. Locus adalah salah satu rumah produksi animasi asal Korea Selatan yang digawangi oleh Jin Kwon dan Sujin Wang.
Sementara itu, Yumi’s Cells pertama kali tayang pada 17 September 2021 dan saat ini musim 2 tengah digarap oleh Lotus. Serial animasi Yumi’s Cells menceritakan tentang kehidupan seorang pekerja kantor Yumi yang didalam otaknya terdapat sel yang bekerja keras untuk berpikir dan memberikan perasaan. Serial animasi ini juga diangkat dari webtoon berjudul sama.
Jin Kwon menerangkan, Locus berfokus menggunakan Maya sebagai software animasi CGI-nya. Locus belum berpengelaman membuat asset game, memiliki kecenderungan workflow dalam sofwarenya, dan kecenderungan menggunakan unreal engine.
Selain itu, Locus belum bisa melakukan artistik permainan dan juga menyewa seorang pekerja seni di bidang permainan. Untuk mengubah artis Maya menjadi karya artistik, dibutuhkan beberapa tahapan diantaranya adalah menggunakan Unreal engine sequence shot dengan fitur blueprint sehingga beberapa data dari Maya dapat tersimpan rapih di blueprint tersebut.
Sedangkan untuk proses pipeline, yang harus dilakukan adalah memindahkan file dari disket lokal ke disket lokal lain.
Dalam penutup, Jim menutup dengan mengoptimalisasi lagi dan lagi karakter yang telah disumberkan dari game.
Trends and Prospect of The Character Licencing Industry in Korea
Profesor Si Bum Kim dalam segmen ini menjelaskan, industri lisensi karakter dari tahun ketahun mengalami kenaikan. Kurang lebih pada tahun 1995, kurang lebih anggaran 10,000 won dikeluarkan untuk melakukan licencing animation ini sebagai remarknya. Konsumen animasi kartun membutuhkan 41,200 won di tahun 2001, dan licencing baru dimulai di tahun 2002 dengan 2,000 won.
Di tahun 2007, tren licencing character merangkak naik selama 10 tahun, hingga pada 2017, impor karakter habiskan 1,669 won per 2019 dan 2020 pas masa pandemi COVID-19 mengalami penurunan sedikit dari itu.
Di tahun 2005 misalnya, presiden brazil kala itu Lula da Silva, pernah menjalin kerjasama dengan korea pada industri animasi. Hal ini membuktikan bahwa character licencing di Korea kebanyakan juga menjalin karakter animasi yang dibuat di negara lain. Kala itu, Brazil kerjasama dengan Korea untuk membuat serial animasi bernama Monica’s Gang.
Si Bum Kim juga menjelaskan, jika ingin ‘jago’ dalam character licencing, ada 3 tahapan yang harus dilewati, yaitu resource, IP Business dan Utilizing. Di masa pandemi COVID-19 ini, prinsip Work at Home saat character licencing sangat tinggi di tahun 2020, berbeda dengan 3 tahun sebelumnya yang banyak bekerja dari rumah pula. Creative Productions juga telah berpengalaman dalam membuat cyberhuman character.
Kesimpulan
Industri character licencing memang berkembang pesan di zaman serba canggih apalagi di Korea Selatan dan juga Indonesia. Terlebih, tidak mudah bagi seseorang yang baru menyelam ke industri animasi khususnya di bidang character licencing ini. Di tahun 2019 ke 2020, transisi pekerjaan character licencing dari kantor ke rumah terjadi karena dampak pandemi COVID-19, sehingga kegiatan ini dilakukan di rumah para pekerja di Lotus Animation di rumahnya masing-masing. Yumi’s Cells, salah satu serial animasi korea yang digarap oleh Lotus, menggunakan Maya yang kemudian dikonversi karakternya menjadi unreal engine character dengan fitur ‘licencing’ tadi.
Acara ini memberi bekal untuk para pekerja yang akan berkecimpung di dunia animasi agar bisa memahami soal character licencing ini. Diharapkan, untuk tahun depannya sudah banyak kiprah dan keahlian character licencing yang dimiliki oleh para peserta disini.
#KOCCA Indonesia